Judul blog ini saya ambil dari salah satu BAB di buku TRUTH (Temukan Rasa Utuhmu Temukan Hidup) karya Sophie Navita. Tentu bukan tanpa alasan saya akan bercerita mengenai satu BAB ini. Hal itu dikarenakan pada BAB ini, ada suatu cerita yang membuat hati mungilku ini merasa bersalah. Saya tuliskan kembali ceritanya…
“Cerita ini adalah fenomena
manusia ketika naik lift.
Ketika sedang menunggu masuk
lift, hati kita penuh harap agar lift segera berhenti di lantai kita, agar kita
dapat menaikinya, untuk kemudian mengangkut kita ke lantai yang kita tuju.
Ketika menunggu, kita pasti penuh
harap agar saat pintu lift terbuka, masih ada ruang sedikit untuk kita. Betul,
kan? Kita berharap agar orang yang didalamnya memberi pemakluman dan mau geser
sedikit saja agar kita sendiri muat dan bisa naik ke dalam lift tersebut. Am I right?
Ketika akhirnya pintu lift
terbuka, ternyata masih ada sedikit ruang untuk kita dan kita dapat menaikinya,
perubahan karakter apa yang terjadi? Secara umum, kita ingin cepat sampai tanpa
lift harus berhenti lagi disetiap beberapa lantai. Betul, tidak?
Bahkan, tidak jarang kita
mengalami, sudah mengejar pintu lift yang terbuka dari jauh, tetapi ekspresi
wajah orang di dalamnya berlagak tidak melihat, dan tidak berusaha membuka
pintu lift bagi kita yang ingin menyusul. Padahal, dia hanya perlu memencet
satu tombol
Akan tetapi, rasanya belum juga
semenit yang lalu, kita menjadi pihak yang penuh harap ada yang mau berbelas
kasih dan memberi kita ruang untuk ikut masuk ke dalam lift saat pintu lift
terbuka.
Lalu, ketika kita berhasil masuk
dan menjadi sekawanan dengan para penghuni sementara lift, kita mendadak
menjadi orang yang penuh penghakiman ketika hampir setiap lantai ada yang
memberhentikan lift dan memilikiharapan yang sama seperti kita tadi.
Bahkan, hampir pasti ketika ada orang yang berusaha memasuki lift, berharap diberikan ruang sedikit saja untuk bergabung, kita menghela mapas, terkadang bahkan ditambah gelengan kepala, seakan kita merasa heran terhadap orang yang (menurut kita maksa) mau ikut naik lift, seakan-akan kita lebih layak ada di dalam lift daripada dia. Seakan dia tidak boleh berharap dan berusaha memuatkan tubuhnya ke dalam lift.”
Bagaimana, kawan? Apakah kamu adalah
bagian orang-orang yang suka kesal ketika ada orang lain yang ingin bergabung
bersama di dalam lift? Kalau iya. Kita sama. Saya pun begitu.
Kalau tidak, good for you. Berarti
kamu adalah orang yang baik, menurutku.
Tapi, aku juga pernah menjadi
orang yang berharap untuk bisa masuk lift sesegera mungkin.
Maka dari itu ketika membaca
tulisan tadi saya merasa tertampar. Tertampar fakta bahwa yang hidup bukan cuma
saya doang dan yang punya harapan juga bukan cuma saya doang. Terkadang manusia
lupa bagaimana perasaan berharapnya terhadap sesuatu, ketika sudah
mendapatkannya. Hanya sekedar naik lift aja manusia bisa sebegitu egoisnya ya.
Semoga setelah membaca ini, saya,
kamu, kita semua, menjadi orang yang lebih sabar dan mengerti. Bahwa semua
orang pantas untuk mendapatkan hal-hal baik. Termasuk perasaan senang orang di
dalam lift dalam menyambut orang yang ingin menaiki lift.
Dari cerita di atas, tak lupa ada
satu quote yang mengiringinya.
“Aku BERSYUKUR sifat Tuhan tidak
seperti manusia pada umumnya yang seakan lupa ingatan ketika berada di dalam
lift.” – Sophie Navita, salah seorang (yang pernah) berharap dapat ikut naik
lift
Jangan lupa untuk baca semua isi
bukunya. Kamu akan menemukan hal-hal menarik di BAB lainnya. Karena ada banyak hal yang terkadang kita sepelekan tetapi sebenarnya
sangat baik ketika kita menyadarinya.
See you in the next post!

Komentar
Posting Komentar