Cerpen: Kuburan


“Fer, ini tinta abis nih. Gue belum selesai nge-print sertifikat buat besok. Gimana dong?” tanyaku dengan gelisah. Ia takut kalau-kalau besok tidak memiliki waktu. Pasalnya, Jadwal besok sangat padat. Dan ia akan memegang jobdesc yang lain.

Feri berdiam diri sembari berpikir apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba saja ia berteriak, “WOY SIAPA YANG PUNYA PRINTER DI RUMAHNYA?” Semua orang yang sedang berkutik dengan tugas masing-masing seketika menoleh ke arahnya. Sialnya, tidak ada yang menjawab. Kurang ajar memang. Tidak lama kemudian, ada salah seorang teman kami berkata bahwa di rumah Key ada printer. Namun, ia tidak ada bersama kami. Kami pun menghubunginya. Key berkata ia ada di rumahnya dan berkenan meminjamkan printernya untuk kami. Untunglah. Aku dan Feri pun bergegas ke rumah Key.

Sebenarnya diantara kami (Aku dan Feri) tidak ada yang tahu persis rumah Key. Aku sebenarnya sudah pernah ke rumahnya, tapi aku memang sangat buta jalan. Alias, agak sulit untuk bisa menghapal jalan menuju ke rumah orang lain. Apalagi aku hanya berkunjung sesekali bila perlu.

Kami berkendara sekitar pukul 23.00, keadaan jalan sudah sangat sepi sekali. Kami berusaha untuk melalui jalan yang lebih ramai. Jika melewati jalan yang lebih ramai kami harus melewati perumahan, ternyata jalan sudah ditutup aksesnya oleh sebuah palang. Kami tidak bisa lewat. Terpaksa kami harus memutar balik dan harus melewati jalanan yang sepi. Yang ku ingat dalam perjalanan dulu, aku akan melewati sebuah kuburan yang memang masih digunakan. Sial.

“Fer, lu tau gak sih? Kalau lewat sini bakalan lewatin kuburan.” Ucapku dengan nada yang menakutkan.

“Ah masa, bohong kan lu?” Kudengar ada sedikit rasa takut dalam nadanya berbicara. Sayang sekali aku tidak bisa melihat raut wajahnya, karena jalannya sedikit remang-remang.

Sebenarnya aku tidak gentar karena aku tidak sendirian. Kalau sendirian, tentulah aku sudah gemetar tidak karuan. Dengan satu mata terpejam, akan kuucap semua doa-doa yang diajarkan guru ngajiku di rumah. Juga ayat-ayat suci yang sudah ku hafalkan di sekolah.

Sampailah kami pada sebidang tanah lebar yang dipenuhi oleh pohon-pohon rindang serta gudukan-gundukan tanah. Tak lupa sebuah papan nama yang tertancap di atas gundukan tersebut. Seperti tidak ada apapun disekitar kami. Anginpun terasa enggan menemani ketakutan kami. Seperti juga banyak sepasang mata yang sedang mengawasi kami. Takut kalau-kalau kami akan mengacaukan kehidupan mereka. Kamipun bergidik ngeri. Hal yang tak kusangka adalah ternyata Feri lebih penakut dibandingkan aku. Payah sekali. Ku pikir dia yang lebih berani.

“Lu gak takut kan Fer?”

“A… ahh… eng… engga…”

Ternyata dia mengelak bahwa dia penakut. Kampret. Sebenarnya jalan kuburan tersebut tidak begitu panjang. Namun, dengan rasa takut yang kami berdua miliki, membuat kami merasa seperti sedang melintasi Jembatan Suramadu. Terasa panjanggg sekaliii. Sial.

Setelah napas terasa seperti sudah diujung. Kami akhirnya bisa melewati jalan kuburan itu. Tentulah masih dengan jantung yang berdetak kencang seperti setelah dikejar-kejar anjing pitbull. Tak lama pula kami akhirnya sampai dengan selamat.

Ketika urusan sudah selesai dan hendak pulang. Key memberi tahu jalan lain, yang pasti tidak melewati jalan kuburan. Syukurlah, Feri jadi tidak ketakutan lagi. 

Komentar