”Kata siapa jadi benda mati itu enak? Aku si benda mati tidak menyukai hidupku. Kau bisa lihat betapa tidak berdayanya sebuah benda mati. Tidak ada yang enak menjadi kami. Fungsi kami justru hanya mempermudah kalian, para manusia.”
”Tapi, justru kau tidak
akan merasa kebingungan bukan? Kau hanya akan bergerak, ketika manusia
mempergunakan kau.”
“Hanya itu, enak menurut
kau? Hanya karena tidak pernah merasa bingung? Sempit sekali pemikiran kau,
wahai manusia.
Kau tidak pernah melihat
lain-lainnya. Lihatlah sebuah sapu, apakah ia hanya ingin bertemu debu-debu? Lihatlah
sebuah pel, apakah ia merasa ingin untuk membersihkan kontoran-kotoran menjijikkan?
Lihatlah sebuah kasur, ia akan tetap diam ketika seorang pemilik menidurinya
dengan badan yang kotor serta berbau busuk?
Mana tahu sebuah benda
mati menginginkan hal lain. Misal, sebuah sapu ingin menjadi centong agar bisa
menikmati rasa masakan sup majikan yang membuatnya tergoda. Mana tahu, sebuah
pel ingin menjadi pintu yang hanya dibuka lalu ditutup. Mana tahu, sebuah kasur
ingin menjadi kompor yang hanya mengeluarkan api-api. Mana tahu, bukan?”
Si benda mati terdiam
sejenak lalu melanjutkan kembali “Beruntungnya kau menjadi manusia. Bisa melakukan
segala sesuatu sesuai dengan kehendak kau. Kau bisa menjadi apapun yang kau
mau. Kau hanya butuh keberanian untuk bisa melakukannya. Hanya itu yang
membedakan kau dengan aku, si benda mati.”
“Manusia juga bisa
dijadikan alat oleh manusia lainnya.” Kata si manusia.
“Maka, janganlah kau
menjadi bagian dari manusia itu. Berdirilah kau di atas kaki kau sendiri. Oh,
atau kau mau jadi sepertiku? Tak perlu benar-benar menjadi aku. Cukup jadilah alat
bagi manusia lain. Maka kau akan seperti sebuah benda mati.”
Komentar
Posting Komentar