Di sebuah ruang kelas, ada sepasang anak yang menghasilkan keributan. Lalu keduanya melipir ke luar untuk bertemu dengan guru mereka.
“Miss, dia nih ikutin aku terus.” Adu si anak perempuan itu kepada gurunya. Anak perempuan itu kesal,
mengapa ada anak laki-laki yang selalu mengikutinya. Sang guru hanya bisa
tersenyum sambil menggelengkan kepala ketika mendengar si anak perempuan
menggerutu sendiri.
“Kamu jauh-jauh deh, bisa nggak sih!?” celoteh si anak perempuan kepada
si anak lelaki. Namun, si anak
lelaki juga hanya tersenyum kepadanya. Ia tahu bahwa si anak perempuan tidak
membencinya. Ia tahu bahwa si anak perempuan hanya pura-pura marah dan
menggerutu agar ia tidak selalu mengikutinya. Ia tahu itu semua. Ia hanya senang menggodanya karena reaksinya yang
teramat lucu. Dan juga, ia
menyukainya. Tentunya ia masih belum paham apa arti perasaannya, apa maksudnya,
apa tujuannya. Ia hanya menyukainya. Itu saja.
“Nggak mau, nggak mau.” Kata si anak lelaki sambil menjulurkan lidahnya
dan sedikit berlari agar tidak kena pukul oleh si anak perempuan.
Mereka bertemu pada sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk belajar.
Bukan di sekolah, melainkan di sebuah tempat belajar tambahan. Iya, mereka
mengambil kelas tambahan di luar sekolah. Si anak perempuan mengambil kelas Bahasa Inggris dan si anak lelaki
mengambil kelas Matematika. Si anak lelaki sangat bersemangat ketika waktunya
kelas tambahan tiba, karena di luar dari itu ia tidak akan bertemu dengan si
anak perempuan yang disenanginya itu.
Keesokan harinya, si anak
perempuan datang lebih awal. Lalu, ia meletakkan tasnya di sisi paling kanan, karena
di sisi paling kiri berdekatan
dengan kelas Matematika. Kelas matematika adalah kelas si anak lelaki,
ia tidak ingin berdekat-dekatan dengannya. Setelah meletakkan tasnya, ia pergi
ke bawah. Letak kelasnya memang di lantai dua. Si anak perempuan turun untuk
membeli beberapa camilan agar bisa ia makan sebelum kelas berlangsung. Ketika
balik, betapa terkejutnya ia saat melihat tas itu sudah berada di sisi kiri
paling ujung dan sisi sebelumnya sampai ke kanan ujung sudah penuh ditempati
oleh temannya yang lain. Jadi, ia tidak bisa menukar tempat duduknya dengan
senang hati. Ia tahu perbuatan siapa ini. Betapa malasnya ia saat harus
bersebelahan dengan si anak lelaki, karena si anak lelaki senang sekali
menggodanya bahkan saat jam pelajaran berlangsung. Ia kesal.
“Kamu kan yang taruh tas ku di pinggir kiri dekat dengan pintu?” tanya
si anak perempuan kepada si anak lelaki dengan wajah yang sangat malas.
“Bu … bukan … bukan aku kok.”
“Halah, boong aja kamu. Gara-gara kamu nih aku jadi dapat tempat panas.
Nanti kan pas matahari naik langsung kena ke arah aku.” Gerutunya.
“Ya, maaf. Besok engga lagi deh. Janji. Suer.” Ucapnya sambil memberikan
tanda peace di tangannya.
Ternyata besoknya, mereka semakin dekat. Ketika si anak lelaki mengikutinya,
si anak perempuan tidak marah. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan. Mereka
sudah berteman. Sampai akhirnya mereka harus berpisah. Mereka berpisah karena
sudah tidak berlajar di jam yang sama. Si anak lelaki akan masuk di kelas pagi,
sedangkan si anak perempuan akan masuk di kelas siang. Menurut si anak
perempuan, perpisahan itu menyakitkan dirinya. Karena ia pasti akan merasa
sepi. Merasa sendirian.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar