Kita dan Isi Kepala

     Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini. Akan kaulihat bahwa di gurun ini pun ada kehidupan, di langit sana bintang-bintang bersinar, dan suku-suku berperang karena mereka bagian dari umat manusia. Hidup ini akan terasa seperti pesta bagimu, suatu fertival meriah sebab hidup ini adalah saat yang kita jalani sekarang ini.” Sang Alkemis, Paul Coelho, hal. 111

Mengenai kutipan ini saya sangat setuju. Bagaimana seseorang harusnya memiliki fokus untuk apa yang ia kerjakan hari ini agar menjadi hal yang memuaskan bagi dirinya. Bukan berarti tidak memikirkan hal di depan, melainkan memikirkan sesuatu yang jelas akan ia lakukan hari ini. Memikirkan suatu hal yang belum tentu terjadi itu justru akan memperhambat kita untuk maju. Mungkin untuk zaman sekarang bisa dikatakan overthinking. Kita akan terlalu banyak berpikir sehingga lupa untuk bergerak. Menimbang-nimbang yang mungkin akhirnya tidak jadi dilakukan.

Menurut Ahmadi (2009), overthinking merupakan suatu proses penyelesaian masalah atau proses berpikir yang terlalu berlebih, sehingga memberikan kerugian dan manfaat yang tergantung intensitas yang dilakukan.  Jangan keliru dengan menyamakan orang-orang yang memang berpikir rumit dengan overthinking. Yang saya pahami, overthinking ini lebih ke hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan. Seperti, ketika kita mengirimi pesan ke seseorang tetapi orang itu membalas kita berjam-jam kemudian, bukan berarti ia tidak suka dikirimi pesan olehmu, bukan juga ia malas meladeni pesan dari mu. Barangkali bisa saja ia memang sedang melakukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Melihat orang lain seperti sinis dan menyangka ia marah, padahal sebenarnya barangkali ia memiliki masalah dengan matanya.

Hal-hal yang seperti itulah yang sering terjadi dan malah bikin salah paham. Ada baiknya, kita memiliki self control dengan memikirkan suatu kejadian dari dua sisi. Baik negatif maupun positif. Menurut saya itu lebih ampuh untuk menjauhkan kita dari berpikiran berlebih. Walaupun begitu, terkadang ada juga dampak yang ditimbulkan. Terkadang orang yang berpikiran positif terus cenderung seakan mengabaikan sesuatu dan tidak ingin sesuatunya menjadi lebih rumit. Ia akan sedikit abai dan cuek sehingga tidak terlalu menyadari masalah yang ada di sekitarnya. Seperti, jika ia melakukan kesalahan mungkin saja ia akan berpikir bahwa orang itu tidak akan marah, merasa orang lain juga seperti dirinya yang masa bodoh. Padahal belum tentu, karena masing-masing orang memiliki perasaan yang berbeda-beda.

Maka dari itu, kita sebagai manusia sepatutnya harus belajar bagaimana mengenali perasaan dan tingkah laku diri sendiri dan juga orang lain.

 

Segitu dulu mungkin yang bisa saya bahas, kritik dan saran akan saya terima dengan baik. Have a nice day everyone!🌻

Komentar