Pada sore hari, terlihat seorang wanita sedang teburu-buru, seolah-olah
akan ada sesuatu yang ingin menerkamnya. Setelah ditelusuri, sesuatu itu adalah
waktu. Ia ternyata baru saja bangun dari tidur siangnya. Biasanya wanita itu
tidak pernah tidur di siang hari, tetapi entah bagaimana ia tertidur pulas pada
hari ini. Ternyata ia memang baru memejamkan matanya setelah berkutik dengan
segala tugas-tugasnya. Dan ia lupa bahwa ada janji dengan teman-temannya.
“Duh, mana ya taksinya?” ributnya dengan dirinya sendiri. Kepalanya agak
sedikit pening yang membuat moodnya terganggu.
Terlihat dari sebuah kejauhan, ada sebuah mobil biru yang mendekatinya. Setelah
masuk ke dalam, ia hanya melihat ponselnya untuk mengecek jadwal yang
akan dijalaninya beberapa hari kedepan. Dan kemudian menutupnya kembali. Lalu, ia
bersandar dengan sedikit memejamkan mata, tetapi tidak tidur, hanya pikirannya
saja yang kosong.
“Mbak... ingin lewat mana?” tanya si Bapak yang memecah keheningan.
“Mana saja, Pak. Terserah Bapak saja.”
“Mbaknya sudah kerja atau kuliah?” tanya si Bapak dengan sopan.
“Masih kuliah, Pak.” Jawab wanita itu dengan nada datar, seperti tidak
tertarik dengan sebuah percakapan.
“Anak saya juga masih kuliah, Mbak. Anak saya mah aneh Mbak.”
“Loh, aneh kenapa Pak?” tanya wanita itu dengan nada kebingungan. Apa ya,
maksud si Bapak? Anak sendiri kok dibilang aneh. Gumamnya dalam hati.
“Dulu pas awal daftar kuliah sukanya pindah-pindah Mbak. Nanti dia ambil
formulir di universitas A, lalu ke universitas B, terus ke C, sampe akhirnya
dia balik lagi ke universitas pertama yang dia pilih. Saya mah terserah anak
saya sih, tapi kan sayang-sayang juga ya uang pendaftaran kuliahnya.”
“Iyaya, Pak. Sayang-sayang kalau mau daftar sana-sini tapi ujung-ujungnya
balik ke pilihan awal. Harusnya sih dari awal diyakinin dulu mau yang mana.”
“Gak apa-apa sih, Mbak. Yang penting anaknya mau kuliah.”
Sepanjang perjalanan, wanita itu yang awalnya enggan bercakap-cakap malah
terbawa suasana akibat rasa simpatinya terhadap cerita si Bapak. Si bapak
bercerita bahwa anaknya memang suka plin-plan dalam memilih. Sebetulnya, ini
bukan kali pertama si anak suka bergonta-ganti pilihannya. Pada saat memasuki Sekolah
Menengah Awal, si anak juga melakukan hal yang sama. Si anak hanya masuk sampai
di minggu pertama, setelahnya si anak meminta pindah dengan alasan pelajaran di
sekolah ini terlalu berat baginya. Si anak juga suka meminta uang berlebih,
entah untuk apa. Lalu, si Bapak hanya menurutinya. Si bapak memang bercerita
bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan anaknya itu. Kemudian,
muncul pertanyaan di kepala si wanita. Kenapa si bapak hanya menurutinya? Apa
yang terjadi jika ia tidak menuruti permintaan anaknya?
Si wanita itu ternyata memberanikan diri untuk bertanya, walaupun dari
dalam hatinya ia takut sekali akan menyakiti hati si bapak.
“Pak, kenapa Bapak selalu menuruti permintaan anak bapak?” tanyanya dengan
penuh hati-hati.
“Ya habis gimana, Mbak. Kalau nggak saya turutin, malah nggak mau ngomong
sama saya. Nggak mau makan pula.” Jelas si bapak.
Setelah mendengarnya, si wanita itu malah kesal sendiri. Ia menggerutu
dalam hati. Mengapa ada anak semacam itu? Tega sekali ia memperlakukan
ayahnya sendiri seperti itu. Tidak tahukah ia, bahwa ayahnya mati-matian
mencari nafkah untuk dia dan keluarganya? Tidak tahukah ia, bahwa masih banyak
anak yang berharap ayahnya bisa bersamanya, hanya sekedar berbicara dan tertawa
bahagia? Ah sial anak itu.
Saat pergulatan singkat dikepalanya sedang terjadi, tiba-tiba si bapak
berbicara lagi. Memutus keheningan antara wanita itu dan si bapak.
“Anak itu kan titipan Tuhan, Mbak. Kita sebagai orang tua nggak bisa milih
mau punya anak yang seperti apa. Begitupun sebaliknya. Saya selalu bersyukur
gimana pun anak saya. Kalau memang sifatnya seperti itu, berarti Tuhan percaya
sama saya buat terus jagain dia. Saya cuma bisa bedoa sama Tuhan supaya selalu memberikan
kelapangan rezeki bagi saya agar bisa membahagiakan anak saya.”
Wanita itu hanya terdiam. Ia berpikir betapa beruntungnya si anak yang
memiliki ayah seperti si Bapak.
Komentar
Posting Komentar