Pengingat Tuhan

     Aku terbangun dengan sangat malasnya di pagi hari. Harus mandi, sarapan pagi, lalu pergi ke sekolah. Semua itu membuat aku tidak bergairah. Ku pikir, apa ada baiknya aku membolos saja. Dengan berpura-pura sakit dan mengatakannya pada Bunda. Bundaku pasti tidak apa-apa. Ku katakan, “Bun, kepalaku sedikit sakit. Bagaimana kalau aku ijin untuk tidak pergi ke sekolah?” Bunda hanya menggeleng dan berkata “Ayolah, masa anak Bunda malas ke sekolah. Ayo cepat, nanti terlambat.” Katanya. Ternyata gagal.

Ketika sedang diperjalanan, aku melihat dua adik kakak sedang memulung. Dipungutnya botol plastik bekas satu-satu. Mereka melihatku. Yang satu mungkin seusiaku, 17 tahun. Dan satu lagi mungkin hanya selisih 2 tahun, 15 tahun. Tiba-tiba aku menjadi sangat sedih dan merasa bersalah. Bagaimana bisa aku dengan segala hal yang kupunya malah menyia-nyiakannya. Bagaimana bisa aku ingin membolos, padahal banyak sekali anak-anak di luar sana yang berharap dapat pendidikan juga. Ah, bodohnya aku.

Aku melihat dua orang itu dengan tersenyum, tetapi mataku basah. Aku bersyukur. Kata orang, bersyukur tidak harus dengan melihat orang-orang yang di bawah kita. Tapi menurutku, terkadang kita yang selalu tercukupi malah kurang bersyukur karena selalu bisa dapat apa yang kita mau. Melihat ke bawah, bukan berarti selalu melihat bahwa mereka hidup menderita. Dan kita hidup dengan lebih baik. Bukan. Kita sebagai manusia tidak pernah tahu siapa yang sesungguhnya hidup lebih baik.

Dengan melihat ke bawah kita bisa mensyukuri apa yang sudah kita dapat dalam hidup dan kita hanya bisa mensyukuri sesuatu yang kita lihat. Contohnya, ketika kita melihat seseorang berpakaian lusuh dan pakaian kita lebih bagus. Kita patut mensyukurinya. Tetapi, perihal perasaan seseorang yang tidak bisa kita lihat, kita tidak tahu. Bisa saja orang yang berpakaian lusuh, hatinya lebih gembira daripada kita.

Pengingat Tuhan itu nyata. Ketika kita sedang mengeluhkan sesuatu, terkadang Tuhan menghadirkan sesuatu yang membuat kita bersyukur. Entah orang-orang yang ada di sekitar kita, atau sekadar postingan-postingan belaka. Itu semua pengingat Tuhan. Agar selalu berbaik sangka terhadap segalanya.

Lalu aku melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan hati yang gembira. Sembari mendoakan, semoga Tuhan selalu bersama mereka.

Komentar