Untungnya Kami Masih Berteman

Kali ini saya bakalan ceritain sebuah pengalaman saya yang konyol sebenarnya, tapi juga menyedihkan ๐Ÿ˜‚

Kejadian ini bermula ketika ada sebuah kegiatan Pramuka yang wajib diikuti bagi seluruh siswa di SMA saya. Kami (para siswa) diwajibkan untuk pergi ke sebuah tempat yaitu KORAMIL. Jadi, di sana para siswa akan mendapat pengajaran tentang Kepramukaan. Dari sekolah menuju ke sana, kami semua harus berjalan kaki. Saya hanya bersama satu kawan saya, ya karena masih awal sekolah. Dan hanya dia yang saya kenal.

Kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 15 km (saya baru mengeceknya di Google Maps). Dan dalam perjalanan, kami hanya membawa hal-hal yang dikatakan, selebihnya kami tinggal. Kami harus membawa air minum sekitar 1L atau 2L, madu, beberapa barang lain, dan uang sebesar lima ribu rupiah (masing-masing anak).

Setelah pengecekan semua barang-barang oleh kakak pramuka, tibalah saatnya kami harus berjalan menuju ke tempat tersebut. Hampir semua anak-anak mengikutinya, mungkin hanya segelintir anak-anak yang memang malas tidak ikut. Walaupun sudah diancam akan disuruh berjalan sendiri nantinya, sialnya hal itu tidak pernah terjadi.

Di awal perjalanan kami semua masih bersemangat, ya karena energi kami pun masih penuh. Alias full. Bernyanyi, tertawa, dan masih merasa senang. Walau beberapa menggerutu tidak habisnya. Belum setengah perjalanan, kami mengeluh. Capek. Minta istirahat barang sebentar. Lalu diijinkan, kami menyempatkan untuk minum dan duduk sejenak. Beberapa anak sih tetap melanjutkan perjalanan, kuat sekali pikir saya.

Matahari di atas kepala benar-benar membara. Membakar semua apa-apa yang ada di bawahnya, termasuk kami. Setengah perjalanan kami sudah benar-benar tidak sanggup. Tapi pada akhirnya, kami sampai juga. Sesampainya di sana, hujan baru turun. Sial benar. Mengapa diperjalanan matahari seperti beranak, terang benderang dan panas sekali.

Singkat cerita, kami sudah selesai melakukan semua kegiatan di tempat tersebut. Hujan masih tetap belum reda. Akhirnya kami diperbolehkan pulang. Karena sudah sangat kelelahan, beberapa anak diperbolehkan pulang dengan menggunakan Grab Car. Di sinilah letak konyol dan sedihnya.

Saya itu sebenarnya memiliki kebiasaan mabuk perjalanan ketika menaiki kendaraan semacam mobil pribadi dan bis. Entahlah, saat itu melihat dan menyebutkan namanya dari jauh sudah membuat perut saya ingin memuntahkan isinya. Saya dan kawan saya saling bertanya “Bagaimana cara kita pulang?” “Mau naik Grab Car juga atau bagaimana?” Awalnya saya malu mengatakan bahwa saya mabuk perjalanan, tapi karena saya takut merepotkan, akhirnya saya mengatakannya.

Saya pikir kawan saya benar-benar mengasihani saya yang terlihat benar-benar takut akan menaiki mobil. Saya benar-benar bingung dan takut akan ditinggal sendirian. Akhirnya, kawan saya memutuskan untuk bersama saya dan memilih pulang dengan berjalan kaki. Saya benar-benar bersyukur akan hal itu.

Dalam perjalanan pulang, hujan masih turun, tidak deras juga tidak rintik. Kami memutuskan untuk tetap berjalan kaki karena waktu semakin lama akan semakin sore. Kami menggunakan satu payung berdua. Ketika sedang berjalan, entah mengapa kami menangis. Rasanya memang sedih sekali saat itu. Pulang berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh menurut kami. Turun hujan dan hanya memakai satu payung. Sepatu sangat berat karena basah. Akhirnya membuat kami memutuskan untuk bertelanjang kaki. Tetapi, saya tetap memakai kaos kaki, karena kaki saya tidak kuat. Perut terasa sangat lapar.

Kami tetap meneruskan perjalanan, ketika sudah lebih dari setengah perjalanan kami menemukan tukang tahu bulat. Kami ingin membelinya karena lapar, setelah dilihat kami hanya memiliki uang Rp. 2.500 (total uang saya dan dia). Yasudah, kami tetap membelinya. Lumayan dapat 5 buah tahu. Lalu, kami memakannya. Kemudian, kawan saya mencoba untuk meminta tolong abangnya untuk menjeput kami. Karena jarak kami dengan rumah kawan saya sudah tidak begitu jauh. Abangnya setuju dan kami berbonceng tiga. Dan akhirnya kami sampai.

Dalam perjalanan tersebut, saya benar-benar mensyukuri banyak hal. Kawan yang baik. Masih dapat makan. Dan kami pulang dengan selamat. Padahal sebenarmya saya merasa sangat bersalah, karena saya kawan saya harus ikut menderita๐Ÿ˜ญ. Terima kasih untuk kawan saya untungnya kami masih berkawan sampai saat ini. Untuk seluruh kawan saya, semoga selalu bahagia dan akan tetap bahagia❤๐ŸŒป

Komentar

  1. Semoga persahabatan kalian langgeng terus yaaa.... ๐Ÿ˜„๐Ÿ‘

    BalasHapus

Posting Komentar