Hari Ulang Tahun

Tepat 20 tahun lalu, di tanggal ini, terdengar suara tangis seorang bayi. Pada tengah malam serta hujan lebat sedang mengguyur sebuah desa tempat bayi tersebut dilahirkan. Ia dilahirkan oleh seorang wanita cantik yang hebat dan luar biasa. Wanita cantik itu sampai sekarang masih ada, yaitu Ibu saya.

Ketika saya kecil hingga usia remaja, saya sangat antusias menyambut datangnya hari kelahiran saya. Dengan harap-harap cemas saya berfikir “Adakah yang akan memberikan saya hadiah?” Begitulah sekiranya yang sering saya lihat di TV juga di sekitar saya. Saya pikir mereka selalu dapat hadiah dari keluarga juga kawan mereka. Lalu, saat hari itu tiba, saya tidak dapat. Tidak terkejut, hanya sedikit kecewa. Itu terjadi selama bertahun-tahun selama saya berfikir bahwa hari ulang tahun itu hari yang istimewa. Maka saya selalu menantinya. Dalam beberapa tahun, pernah dapat, pernah juga tidak.

This is KAI from EXO y'all

Di usia remaja menuju dewasa, di tiap tahun saya mendapat beberapa kejutan dari teman-teman saya. Saya senang juga bersyukur tentunya. Masih sedikit berfikir, sebuah hari yang istimewa. Sampai saat saya membaca sebuah postingan Bung Fiersa Besari, saya lupa postingan kapan tepatnya. Intinya begini “Mengapa hari ulang tahun itu dirayakan untuk yang dilahirkan? Bukan yang melahirkan? Benar juga. Padahal, pada saat itu yang bertaruh nyawa bukan kita (yang dilahirkan) tetapi Ibu kita. Seharusnya kita berterima kasih kepada beliau yang sudah melahirkan kita. Seharusnya kita memberikan beliau selamat karena sudah bertahan. Isi postingannya tidak begitu sih, hanya kurang lebih isinya menyampaikan seperti itu.

Sejak saat itu saya berfikir ulang “Haruskah saya yang merayakannya? Padahal sejak dalam kandungan saya telah menyusahkan, tapi beliau tidak pernah mengungkit juga mengeluhkan. Seharusnya saya berterima kasih atas segala kesabaran juga kebaikan hatinya.”  Tentu, sebagai anak saya gengsi untuk mengatakannya. Apalagi, saya anak pertama. Yang kata orang, anak pertama banyak gengsinya. Saya tidak ambil pusing soal kegengsian itu. Mereka kan juga pernah jadi seorang anak, barangkali mereka sama seperti saya, gengsian. Selagi saya masih selalu berdoa kepada Tuhan tentang keselamatan dan kebahagiaan mereka, yang lain-lain tidak terlalu penting.

Soal hadiah dan kejutan, saya tetap menerima. Tentu dengan rasa syukur serta terima kasih kepada Tuhan juga semuanya. Saya menghargai segala apapun. Termasuk ucapan doa akan hidup saya kedepannya. Tidak dapat keduanya pun, tidak apa. Selagi saya juga selalu sehat dan bahagia.

Sudah 2 hari ini saya tidak menulis apapun. Telat. Saya jatuh sakit sudah mau 3 harian ini. Sekarang sudah lumayan membaik, sudah bisa jungkir balik sedikit.

Pokoknya jaga kesehatan buat teman-teman. And happy birthday for me! hahahah🌻

 

Komentar