Di sebuah stasiun tempatku berdiri, aku melihat ke
arah tiket kereta api tujuanku. Bandung-Jakarta, 12:00 WIB. Masih lama,
pikirku. Tiket itu akan menghantarkanku pada sebuah tempat yang teramat ku
rindukan. Lalu lalang manusia, memenuhi tempat yang menjadi saksi sebuah
pertemuan atau perpisahan hidup seseorang. Kemudian ku ingat kalau perutku
belum menyentuh apapun. Tadi pagi aku belum sempat sarapan apapun karena sibuk
menyiapkan segala keperluan untuk keberangkatan siang ini. Terlihat ada sebuah
toko roti, mungkin kita akan menemuinya di stasiun manapun. Harumnya membuat
semua orang jadi menginginkannya, biarpun sudah terisi banyak makanan di
perutnya.
Ku hampiri dan ku tanya berapa harganya. Dua puluh
lima ribu rupiah dengan segelas es kopi dingin. Kalau rotinya aku sudah mencoba,
kalau es kopinya belum. Ku rebahkan diri pada sebuah kursi ruang tunggu untuk
memakannya. Seperti biasa, rasa rotinya selalu aku suka. Manis, tetapi tidak
terlalu manis dan ada sedikit rasa kopi. Kopi susunya tidak terlalu pahit
juga, ku pikir keduanya memang
perpaduan yang pas. Pantas saja disarankan, baiklah aku tidak menyesal.
Ketika selesai makan, aku hanya memandang lalu lalang manusia. Sesekali mengecek ponsel untuk melihat kalau-kalau ia mengabariku. Ternyata tidak. Lalu, dilewatkannya aku oleh seorang ibu pedagang pecel yang meletakkan nampan pecel di kepala. Di atas nampan itu kulihat masih penuh sekali. Ia menjajakan dagangannya sembari berteriak, barangkali orang yang menginginkannya tidak mendengar. Ku dengar sekelibatan pada jeda selepas berteriak, ia melantunkan doa-doa. Doa apa yang ia panjatkan, aku tidak tahu. Mungkin doa agar dagangannya laris dan bisa membawa pulang uang-uang. Atau doa agar semua penumpang kereta selamat sampai tujuan. Ingin ku membeli, tetapi perutku sudah sesak sekali. Jadi, aku hanya mendoakannya kembali. Bukan agar dagangannya laris, juga bukan agar semua penumpang kereta selamat. Tidak. Yang ini bisa kuminta sendiri. Ku doakan, semoga apa yang ia panjatkan segera di kabulkan Tuhan. Karena aku tidak tahu apa yang menjadi keinginannya. Barangkali ia hanya berdoa agar ia sampai rumah dengan selamat, itupun sebuah doa yang tidak boleh dilewat.
Komentar
Posting Komentar