This is Life

 

Di beranda rumah aku terduduk sembari menatap seseorang yang ada di sampingku. Dengan secangkir kopi dan teh yang kami pegang masing-masing. Dia tersenyum dan sangat banyak bicara. Tanpa sadar akupun juga tersenyum melihatnya.

“Aku lagi deket sama temen sekelasku.” Jelasnya dengan sangat antusias.

“Oh ya? Kok bisa?” jawabku datar tetapi dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Lalu ia menceritakan semua proses dari awal timbulnya benih-benih perasaan yang ia rasakan kepada lelaki yang ia cintai itu. Sembari menyimaknya, diam-diam kepalaku memikirkan banyak hal. Apa ini? Apakah ini hanya mimpi? Mana mungkin aku bertemu dengannya setelah sekian lama aku kehilangan dirinya. Aku tak tahu bagaimana kabarnya. Di mana keberadaannya. Tapi, kejadian ini terasa sangat nyata dan berlangsung lama. Segera ku buang jauh pikiran-pikiran yang bersemayam di kepalaku.

“Eh iya, kamu ingat gak sih? Kita pernah sengaja jalan di tengah hujan?” tanyanya tiba-tiba sambil tertawa.

“Ingat lah, mana mungkin aku lupa?” tanpa sadar memori itu kembali hadir di kepalaku, yang membuatku mengingatnya.

Saat itu kami sedang berjalan berdua, menuju ke sebuah percetakan untuk mencetak beberapa jadwal sekolah. Awalnya langit terlihat biasa saja, tidak terlalu terang pun tidak terlalu gelap. Tetapi, seketika ada ribuan rintik-rintik yang berjatuhan. Lalu, lama kelamaan semakin banyak dan hujan turun dengan derasnya. Harusnya kami berteduh agar tidak basah kuyup, tapi pada saat itu kami begitu riang menikmati hujan. Disaat semua orang merasa jengkel karena hujan turun tanpa aba-aba, kami justru merasa senang. Terutama diriku.

Ketika sedang menikmati rasa senang itu, tiba-tiba saja aku terbangun. Ah sial, lagi-lagi hanya mimpi. Kulihat jam weker di samping tempat tidurku, ternyata sudah pukul 7 pagi. Lagi-lagi tidurku lebih panjang. Aku memang tertidur lebih lama dari biasanya ketika sedang memimpikan Alice, sahabat kecilku. Kami sudah berkawan selama 10 tahun lamanya. Selama itu, aku benar-benar menghabiskan waktu dengannya. Banyak orang yang mengira kami mirip, hanya karena kami selalu bersama. Kita hanya berpisah ketika kami harus bersekolah, karena kami tidak berada pada sekolah yang sama. Selebihnya, seperti makan, tidur, main, renang, sampai mandi pun bersama. Walaupun yang terakhir sudah tidak kami lakukan ketika kami sudah sama-sama merasa malu. Ah, lucunya kami saat itu.

Aku selalu berkhayal bahwa kami akan tetap bersama meskipun kami sudah menikah dan memiliki anak nanti. Aku rasa pun tidak akan ada sesuatu yang memisahkan kita. Apapun itu. Semakin kesini memang, aku merasa hidupku sangat bergantung padanya. Merasa seperti tidak membutuhkan siapapun selain dirinya. Tapi, justru aku lupa kalau ada yang cemburu, yaitu Tuhan ku. Dia merancang sebuah jalan yang tak pernah sama sekali terbayangkan dalam hidupku. Membuat hatiku hancur dan tak tahu harus bagaimana. Dalam sekejap semuanya berubah, benar-benar berubah. Aku sudah tidak bisa lagi melakukan hal-hal konyol bersamanya. Tidak ada lagi jalan di tengah hujan, makan mie instan bersama, tidur bersama, dan hal lain. Aku bingung.

Lima tahun setelahnya, yaitu saat ini, aku masih sering memikirkannya. Tentang apa yang telah ku lalui bersamanya. Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa siap atau tidaknya kita, sesuatu yang datang memang akan pergi dan akan digantikan dengan yang lebih baik. Ada satu hal yang aku syukuri yaitu, “Meskipun aku harus berpisah dengannya, setidaknya bukan karena ada perselisihan di antara kita, melainkan memang takdir Tuhan lah yang memisahkan kita.”  Hal itu membuat hatiku merasa lega, dan aku akan terus mengingatnya sebagai sebuah kenangan yang indah. Walaupun terkadang, aku masih memimpikannya.

Komentar

  1. Yang Maha Kuat memang takdir Tuhan yah... Rencana Tuhan pasti lebih indah dibanding rencana kita.

    ini dari @on_two3 kak ^^

    ada di twitter ��

    BalasHapus

Posting Komentar